<$BlogRSDURL$>

cad_drafter's blog

aku...? aku...? aku...?

Friday, July 30, 2004

Pengajian : Islam dan Praksis Sosial


Agama Islam adalah agama yang tidak berhenti pada ibadah kepada Allah (swt) semata, tapi berlanjut pada praksis sosial. Ayat-ayat dengan lafadz iman dalam Qur'an, jika kita cermati, selalu bergandengan dengan perintah beramal saleh. Setiap kata "amanuu..." (beriman) sudah dipastikan disertai dengan "wa 'amilush-sholihaat..."(Q.S. Hud : 23). Redaksi seperti pada ayat ini banyak kita jumpai dalam Qur'an, dan selalu mempunyai redaksi yang serupa. Artinya, iman tanpa amal saleh tidak akan banyak berarti. Keduanya terkait. Penghambaan kepada Allah tak akan bermakna banyak kecuali berlanjut pada praksis sosial, amal saleh.

Keimanan seseorang bukanlah sekedar hanya pengakuan, tetapi berimplikasi pada kehidupan keseharian dirinya. Seorang mukmin merupakan bukan saja aktor untuk diri dan keluarganya, tetapi untuk masyarakat, bangsa, negara dan komunitas global. Perintah Allah,"Sesungguhnya Allah ta'ala menyuruh kalian berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi (bantuan) kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang melakukan perbuatan keji dan kemungkaran serta permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kalian, semoga kalian memperoleh pengajaran."(Q.S. al-Naml : 90)

Pada ayat di atas, seorang mukmin adalah pelaku dan penegak keadilan atas lingkungan dan masyarakat, disamping pencipta perdamaian. Berbuat adil sebagai amal praksis seorang Muslim, kata Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, adalah kewajiban. Adapun berbuat kebajikan (ihsan), seperti lafadz yang mengikutinya dalam ayat di atas, adalah mustahab, laku terpuji yang membuat bertambah poin kemuliyaan di mata Allah. Seorang Muslim adalah pelindung dan penyantun orang-orang sekitar, seperti tercermin pada ayat tadi : seorang Muslim dituntut untuk memberi santunan kepada kaum kerabat, para janda, anak-anak yatim, orang-orang fakir, tetangga dan orang-orang disekitarnya. Sabda Nabi,"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus menghormati tetangganya." Pada hadits lain,"orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus menghormati orang yang datang bertamu kepadanya."

Laku ritual seorang Muslim tidak akan bermakna cukup berarti kecuali mengabdikan dirinya terhadap kebaikan. Adapun kebaikan-kebaikan tersebut Allah memperinci,"Bukanlah disebut kebaikan ketika kamu hadapkan wajahmu ke timur dan ke barat, akan tetapi yang disebut kebaikan adalah beriman kepada Allah, beriman kepada hari kemudian (akhirat), beriman kepada malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi ; (setelah itu) dia memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat dekatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang musafir, orang-orang yang meminta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, serta dia melakukan salat, memberikan zakat, menepati janji bila ia berjanji, hatinya bersabar atas kemiskinannya, kesengsaraannya, serta ketika ada peperangan. Mereka inilah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertaqwa."(Q.S. al-Baqarah : 177)

Sabda Nabi (saw),"Kebajikan merupakan salah satu pintu surga, dia dapat menghindarkan pelakunya dari kejahatan yang menghancurkan."(H.R. Imam Abu Syaikh, hadits melalui Ibnu Umar r.a.)

Dalam diri manusia tersimpan dua hal, jiwa yang membutuhkan kerendahan hati, dan badan yang menjadi pelaku dan sebab terwujudnya tatanan sosial yang teratur serta perputaran roda kehidupan dunia yang menyenangkan. Inilah kemenangan yang dijanjikan oleh Allah selain kemenangan lain kelak di akhirat. "Hai orang-orang beriman, ruku' dan sujudlah serta sembahlah Tuhan-mu, dan berbuat baiklah, semoga kamu memperoleh kemenangan."(Q.S. al-Hajj : 77)

Allah selalu menekankan bahwa setelah hubungan pribadi antara seorang hamba dan Tuhannya terbentuk, peran sosial sangat diperintahkan.Dalam masyarakat Islam, ketika setiap warga menyelami makna terdalam ajarannya, tak akan mudah ditemukan kejahatan, ketimpangan sosial, ketidak-adilan, pelanggaran hak asasi manusia dan penindasan. Islam adalah agama pembebasan dari segala macam belenggu yang menyengsarakan umat manusia, baik dari sisi rohani dengan iman, maupun dari segi jasmani. Wallahu a'lam

Rizqon Khamami, Lc